Rusia – Gempa bumi dahsyat berkekuatan magnitudo 8,7 mengguncang lepas pantai timur Semenanjung Kamchatka, Rusia, pada Rabu pagi (30/7/2025) pukul 08:25 waktu setempat. Gempa ini memicu peringatan tsunami massal di seluruh kawasan Samudra Pasifik.
Pusat gempa berada sekitar 133 kilometer tenggara kota Petropavlovsk-Kamchatsky pada kedalaman 18 kilometer. Meskipun tergolong gempa dangkal yang berpotensi sangat destruktif, laporan awal menunjukkan tidak ada korban jiwa yang dilaporkan hingga saat ini.
Di kota pelabuhan Severo-Kurilsk, tiga gelombang tsunami berturut-turut menghantam wilayah tersebut, dengan gelombang ketiga yang paling merusak mencapai ketinggian 4 meter.
Tsunami ini merusak fasilitas pelabuhan, menghanyutkan kapal-kapal ke laut terbuka, dan menyebabkan sebagian wilayah kota terendam air laut. Penduduk setempat terpaksa mengungsi ke dataran yang lebih tinggi.
Gubernur Kamchatka Vladimir Solodov menyebut gempa ini sebagai “yang paling serius dan terkuat dalam beberapa dekade terakhir.”
Meskipun demikian, kerusakan yang dilaporkan relatif terbatas, dengan sebuah taman kanak-kanak rusak dan gangguan pada jaringan listrik serta layanan telepon seluler di beberapa titik.
Berdasarkan data dari Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), gempa ini awalnya tercatat bermagnitudo 8,0, kemudian direvisi menjadi 8,7, dan beberapa sumber melaporkan hingga 8,8.
Kekuatan ini menempatkan gempa Kamchatka sebagai gempa keenam terkuat yang pernah tercatat dalam sejarah, setara dengan gempa Chile 2010 dan Ekuador-Kolombia 1906.
Peringatan tsunami dikeluarkan untuk berbagai negara di kawasan Pasifik. Pemerintah Jepang mengeluarkan peringatan tsunami setinggi hingga 3 meter di sepanjang pantai Pasifik dari Hokkaido hingga Wakayama. Sekitar 1,9 juta warga diminta mengungsi dari wilayah pesisir.
Peringatan tsunami juga diberlakukan untuk Alaska, Hawaii, California, Oregon, Washington, dan Guam. Gelombang tsunami diperkirakan mencapai Hawaii sekitar pukul 19:15 waktu setempat.
Indonesia, Filipina, Tiongkok, dan negara-negara lain di kawasan juga mengeluarkan peringatan waspada tsunami dengan perkiraan ketinggian gelombang bervariasi dari 30 sentimeter hingga 1 meter.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indonesia mengeluarkan peringatan potensi tsunami di 10 wilayah dengan perkiraan ketinggian gelombang di bawah 0,5 meter.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indonesia, gempa ini disebabkan oleh aktivitas subduksi lempeng pada Palung Kurile-Kamchatka dengan mekanisme patahan naik (thrust fault). Lokasi gempa berada di wilayah Cincin Api Pasifik yang secara geologis sangat aktif.
Episentrum gempa Rusia ini terletak hanya 45 kilometer tenggara dari lokasi gempa Kamchatka berkekuatan 9,0 pada tahun 1952 yang mengakibatkan tsunami dahsyat di seluruh Pasifik.
Di lokasi gempa, Lempeng Pasifik bergerak ke arah barat-barat laut terhadap Lempeng Amerika Utara dengan kecepatan sekitar 77 milimeter per tahun.
Hingga pukul 08:30 WIB, BMKG mencatat 7 aktivitas gempa susulan dengan magnitudo terbesar M6,9 dan terkecil M5,4. Para ahli seismologi memperingatkan bahwa gempa susulan yang kuat masih mungkin terjadi dalam beberapa hari ke depan.
Profesor geologi kelautan di Oregon State University, Chris Goldfinger, menjelaskan bahwa dampak tsunami akan bervariasi di setiap lokasi, dengan wilayah yang berada di jalur energi gempa dari Semenanjung Kamchatka mengalami dampak paling besar.
Berbagai negara telah mengaktifkan sistem peringatan dini tsunami dan membentuk satuan tugas darurat. Pemerintah Jepang membentuk tim respons khusus untuk pengumpulan informasi dan penanganan bencana, sementara otoritas AS mengeluarkan peringatan melalui berbagai platform media sosial.
Masyarakat di wilayah terdampak diminta untuk tetap tenang namun waspada, menjauhi pantai, mencari tempat yang lebih tinggi, dan mengikuti instruksi dari otoritas setempat.
Para ahli menekankan bahwa meskipun gelombang awal yang tiba mungkin relatif kecil, tsunami bisa datang dalam beberapa gelombang dengan yang terakhir berpotensi paling merusak.



